seolah mati tanpa roda-roda yang berputar. hanya jalanan yang bertemu tempat lampu-lampu yang menumpu. tidak ada aroma nasi, tidak ada aroma tanah yang menyerbu karena tersapu. yang ada hanya aroma asap-asap keruh yang saling memburu.
atap kota. pelindung sejuta harapan, menaungi beribu isi kepala, mewadahi berjuta aspirasi, dan memayungi hujan ambisi. berderet sunyi seakan mati, bahkan sang kunti enggan berhenti karena atap kota adalah atap sang penyendiri.
ada yang angkuh, berdiri tanpa rasa peduli. memancarkan cahaya untuk suramnya kehidupan sang jutawan. menatap langit seolah ia tidak menginjak bumi, pdahal kakinya jauh lebih rendah dibandingkan rumah yag bahkan tanpa jendela. masa bodoh akan tenggelamnya rumah yang bahkan tak berdinding kaku karena dimata mereka hanya kaca berhias nista menjadi rasa bangga.
ada cerita, ada berita,
tapi reklita hanya sebuah reka
hm.......
kota
penebar harapan bermuka dua