permasalahan pendidikan bukan masalah baru yang ada di bangsa kita tercinta. mulai dari sarana dan prasarana pendidikan yang tidak mencukupi hingga rusak, minimnnya anggaran dana untuk pendidikan, sedangkan untuk menjadi orang yang terdidik memerlukan dana yang sangat mahal sehingga tidak semua kalangan dapat menjangkaunya.
pemerataan pendidikan sepertinya hanya menjadi janji manis yang sulit diwujudkan jika melihat kondisi sosial masyarakat yang masih seperti sekarang ini. kesenjangan kondisi ekonomi penduduk desa dan kota yang sangat jauh menyebabkan kesenjangan dalam hal pendidikan diantara dua peradaban tersebut. masyarakat kota yang cenderung dekat dengan pusat-pusat pemerintahan dan pusat peradaban, memiliki kesadaran akan pendidikan yang tentunya sangat tinggi. terbukti dengan kegigihan mereka untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga tingkat yang tinggi. entah untuk prestise ataupun hanya sekedar syarat memasuki bidang tertentu.
fasilitas pendidikan di kota pun lebih lengkap. hal ini bisa disebabkan karena di sana lebih terpantau sehingga masalah-masalah yang bahkan kecil pun dapat di ekspos menjadi sebuah masalah yang besar. lembaga penunjang pendidikan formal menjamur seiring akan masayarakat yang mulai membutuhkannya. anak-anak mereka telah menjalani berbagai macam les sejak usia dini.
sekarang mari kita lihat apa yang terjadi disebuah desa terpencil. apakah ada yang meliriknya? pasti ada. namun tidak banyak. mereka yang peduli akan pendidikan anak-anak di daerah terpencil kurang mendapat perhatian.
disebuah desa kecil yang terletak di kabupaten indramayu, misalnya. ada sebuah sekolah dasar yang didirikan disana. kondisinya tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah lain yang ada di daerah tersebut. fasilitasnya hanya sebatas ruang kelas, bangku, perpustakaan dan mushola. halaman sekolah merupakan lahan serba guna yang suatu saat bisa berganti-ganti fungsi. lapangan olahraga pada saat pelajaran tersebut, lapangan upacara pada waktu hari senin, tempat barmain saat istirahat, dantempat menjemur padi bagi warga sekitar saat panen tiba.tentu bisa kita lihat perbedaannya dengan sekolah di kota.
yang lebih memprihatinkan adalah kondisi siswa. jika anak usia dini saja di kota sudah mengenyam berbagai macam-macam les sehingga mereka bisa menguasai baca-tulis sejak kelas satu atau dua SD atau bahkan sebelum itu. tidak demikian dengan di desa tersebut. sungguh memprihatinkan anak kelas 5 SD masih belum dapat membaca. rata-rata anak kelas 5 SD masih terbata bata membaca. bukan hanya dalam membaca tapi juga dalam menghitung. anak kelas 2 SD di kota sudah menguasai perkalian dan pembagian sedangkan di desa bahkan kelas 6 pun masih sulit menjumlahkan.
memang tidak semua anak seperti itu. namun rata-rata di sekolah tersebut demikian. apa yang salah? apakah karena kekurangan fasilitas ataukah kesalahan pengajarannya? semuanya merupakan satu simpul yang tidak bisa dilepaskan. guru di desa tersebut kebanyakan adalah guru yang sudah lama sehingga sistem belajar yang mereka terapkan masih seperti yang lama. kurikulum yang terus berganti bukanlah hal mudah yang bisa diterapkan. karena kenyataannya mereka tetap menggunakan metode-metode lama.
selain masalah -masalah tersebut, yang juga menjadi masalah yang sangat berpengaruh adalah orang tua. masyarakat desa yang masih berpikiran sederhana, kurang memahami pentingnya pendidikan. bagi mereka, yang terpenting adalah bisa makan hari ini. tidak penting bisa membaca atau tidak jika perut mereka lapar. anak-anaka yang sedang mengikuti pelajaran dikelas bahkan mereka suruh pulang dengan meminta ijin kepada guru yang sedang mengajar hanya untuk membantu mereka memanen di sawah. sungguh ironis, di jaman yang semakin memburu ini masih seperti ini.
semangat dan cita-cita mereka adalah butir-butir pembangun bangsa. sayang sekali jika semangat dan cita-cita tersebut harus kandas hanya karena ketidakpahaman orang-orang tua mereka, kondisi ekonomi, dan kurangnya wadah yang dapat menampung aspirasi mereka. kemauan mereka begitu tinggi, terbukti dengan antusiasme mereka ketika ada sebuah kegiatan belajar bersama yang diadakan mahasiswa yang sedang melaksanakan program KKN. hanya saja kurangnya perhatian akan hal tersebut membuat mereka hanya menjadi boneka-boneka yang hanya bergerak menuruti kemauan tuannya.
anak-anak desa juag berhak mendapatkan apa yang di dapat anak-anak di kota. mereka juga berhak bermimpi dan membangun mimpinya tersebut. semoga kesenjangan pendidikan di negara kita dapat segera dipersempit sehingga tidak ada lagi airmata yang jatuh akibat kandasnya cita-cita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar