generasi muda sebagai generasi penerus bangsa, generasi muda sebagai tulang punggung bangsa, generasi muda sebagai penentu masa depan bangsa. hal tersebut bukan rahasia lagi. banyak pidato-pidato yang menyebutkannya. banyak buku yang menyebutkan hal tersebut. memang benar pernyataan itu. karena usia manusia tidak ada yang abadi, yang telah menua akan segera berganti dan pemuda lah yang akan menggantikannya. tanpa ada pemuda maka peradaban akan berhenti pada satu titik. diam dan habis.
lalu pemuda yang seperti apa yang diharapkan bangsa?
ketika pertanyaan itu dilontarkan mungkin jawabannya akan sangat ideal. pemuda yang bisa membawa kemajuan untuk bangsa, pemuda yang dapat memperbaiki bangsa yang kian terpuruk, pemuda yang berprestasi sehingga mengharumkan nama bangsa, dan lain-lain.
kenyataannya?
banyak pemuda yang berprestasi yang terlantar. prestasinya hanya menjadi kepentingan sesaat. banyak pemuda yang berpikir untuk kemajuan dijadikan kambing hitam sebuah alasan untuk membungkam keadilan yang mereka serukan. yang lebih memprihatinkan bahkan kurangnya persiapan untuk menjadikan pemuda-pemuda penerus bangsa yang ideal tersebut.
permasalahannya bukan hanya terletak pada apa yang dilakukan orang-orang yang diatas tetapi juga bagaimana yang dilakukan pemuda tersebut. banyak yang mengetahui bahwa mereka lah yang akan meneruskan bangsa tapi tidak banyak yang memahami bagaimana langkah yang harus mereka jalani untuk menjalankan peran tersebut. tidak banyak pula yang berpikir akan masa depan yang ingin dicapainya. yang akan menorehkan titik emas pada lembaran peradaban bangsa. kebanyakan adalah mereka yang terjebak dalam duania hedonis yang mengagungkan kebebasan tanpa batas, mendewakan cinta yang tak bermakna dan dunia fana yang memandang kita sebelah mata.
banyak kasus pelajar yang hamil diluar nikah, banyak kasus remaja yang harus keluar karena mengkonsumsi hal yang dilarang. tindakan yang menggambarkan kesuraman masa depan bangsa.tidak malu melakukan hal yang memalukan bahkan menganggap biasa hal yang jelas-jelas dalam norma masyarakat tidak dibenarkan dan dalam norma agama pun demikian.
mereka yang menjadi pena peradaban, yang duduk dibangku perguruan tinggi terlalu sibuk mengikuti perkembangan jaman. fashion, teknologi, dan trend entertainment menjadi fokus utama mereka. sedangkan aoa yang seharusnya mereka lakukan menjadi sebuah sampingan. kampus bukan ajang untuk menuntut ilmu melainkan ajang untuk peragaan busana, display teknologi terbaru. mengkritisi kesalahan pemerintah, masyarakat ataupun bidang tertentu tanpa mengetahui solusinya. bahkan mereka sering tidak menyadari bahwa sedang menjatuhkan diri sendiri.
lalu bagaimana masa depan bangsa. bagaimana peradaban ke depan?
bagaiman korupsi bisa hilang kalau siswa, mahasiswa masih mencontek. bagaimana bisa berprestasi kalau hanya untuk mendapatkan nilai saja mereka hanya memberikan lembaran-lembaran rupiah tanpa harus bersusah payah mengikuti perkuliahan sebagai ajang transfer ilmu, tanpa harus mengerjakan tugas. bagaimana akan maju kalau tunas-tunas muda yang berbakat harus mengucurkan air matanya karena mereka harus mengubur hasratnya dalam-dalam untuk mengenyam pendidikan.
jika kondisi-kondisi kecil seperti ini terus dibiarkan, maka pemuda tetap akan menjadi penerus peradaban, namun peradaban yang bagaimana, kita sudah bisa menebaknya. bukan berarti kita tidak boleh mengikuti apa yang sedang berkembang, malah bagus jika kita mengikutinya karena kalau tidak kita akan menjadi bangsa yang tertinggal. namun perlu sikap yang bijak untuk mengikuti semuanya.
untuk insan-insan pendidikan, mari kita perbaiki pendidikan kita agar peradaban yang dibangun generasi mendatang lebih baik dari peradaban yang kita bangun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar