Seharusnya tidak ada yang
sama antara kemarin dengan hari ini, tidak ada yang sama antara hari-hari
sebelumnya dengan hari-hari yang akan datang. Tapi waktu seakan lugu dengan
menyuguhkan segala pemandangan yang tidak terlalu berubah. Ketika menunggu
menjadi sebuah hal yang tak lagi jemu. Ketika sebuah kesalahan bukan lagi
memperlihatkan rasa malu bagi para pelaku. Tidak berbeda ketika waktu dan aku bemain-main
dalam dekapan keluh. Bergerak enggan, namun diam seperti tenggelam. Hm...
Begitu banyak kata yang
terucap lewat mata. Namun tak semuanya mengerti akan kata yang bukan bahasa. Kadang
iba menghampiri disebuah sudut kota yang ramai namun sepi dalam dekapan
mimpi. Menanyakan kehidupan yang tak
ubahnya bagai rimba yang mempesona namun mengandung begitu banyak perangkap
yang siap menjebak mangsa yang lengah dengan langkahnya.
Kotak-kotak kecil hingga karung
besar menjadi sebuah kehidupan bagi satu bagian masyarakat. Dengan senyumnya
yang setengah dibuat bahkan dengan emosi yang begitu jelas diperlihatkan,
manusia-manusia itu berusaha menggapai hidup. Apa yang harus diberikan?
Hanya iba menjadi sebuah mata
yang menembus rasa.
Hari esok, apakah kita akan
sama? Atau kita akan menjadi mereka?
Siapa yang nyana. Memaknai
setiap detik, setiap angin yang berhembus, setiap sinar yang menyala. Bersyukur
atas apa yang diterima. Bukan keluhan atau cerca penuh nista agar hari ini
tidak sama dengan hari hari sebelumnya, agar esok menjadi satu langkah
perbaikan dan perubahan.