aku seorang anak kampung
berdiri di tengah kota memanglah terlalu mencolok
aku seorang anak kampung
berdiri di tengah kota mungkinlah tidak cocok
aku seorang anak kampung
melihat betapa gersangnya kota ini dengan ambisi dan pemikirannya
mendengar betapa kota ini meneriakkan kebohongan dan membisikkan kebusukan
menyaksikan betapa mudahnya kota menjatuhkan dan mengangkat seseorang
aku seorang anak kampung
merasakan betapa sunyinya kota di balik hiruk pikuknya
aku seorang anak kampung
mencoba mencari keteduhan di balik panasnya ambisi
aku seorang anak kampung
hanya bisa tersenyum menghadapi kota ini
mencoba tetap berdiri di bawah rapuhnya pondasi yang terlihat kokoh
pada akhirnya
aku hanyalah seorang anak kampung
dan kampungku adalah rumahku
peneduh dan pelindungku......