Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat menimbulkan meningkatnya kebutuhan-kebutuhan yang menunjang kehidupan penduduk tersebut. Selain pangan sebagai kebutuhan dasar, kebutuhan akan papan pun tidak dapat diabaikan. Papan sebagi tempat berlindung dan bernaung dari panas yang terik dan hujan yang jatuh. Papan sebagai tempat untuk beristirahat, dan banyak hal lagi.
Peningkatan kebutuhan akan papan menjadi peluang bisnis bagi para pengembang perumahan. Hal tersebut tentu sangat menguntungkan. Para pengembang mulai mencari-cari lahan yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan tersebut. Akibatnya, lahan terbuka menjadi semakin berkurang.
Persawahan berubah fungsi mejadi sebuah real estate atau komplek perumahan. Hutan-hutan diganti vegetasiya menjadi villa dan rumah-rumah yang berjejer membentuk polanya tersendiri. Hal tersebut tentu menjadi sebuah permasalaha tersendiri. Ruang terbuka hijau yang merupakan pabrikoksigen yang sangat penting menjadi sangat sempit. Sedangkan pohon sebagai penyerap karbondioksida menjadi sangat kewalahan menerima sisa pembakaran tersebut yang jumlahnya bahkan sudah tidak normal lagi. Efek lainnya adalah berkurangnya sumber makanan.
Untuk mengurangi dampak tersebut, para perancang, pemikir, dan bahkan penuntut ilmu yang berhubungan dengan bidang pengembangan perumahan mengusulkan ide taman atap atau roof garden.
Solusi kah?
Satu sisi memang benar. Meskipun tidak ditanam diatas tanah secara langsung namun taman atap ni tentu bisa dijadikan media penghijauan bahkan sarana untuk penyediaan oksigen keluarga. Bahkan taman atap tersebut bisa dijadikan penambah estetika pada sebuah bangunan.
Banyak mahasiswa yang menyisipkan taman atap dalam desainnya dengan alasan untuk penghijauan. Sedangkan halaman dari bangunan tersebut di desain untuk menjadi lahan parkir yang notabene ditutupi dengan perkerasan. Pada kasus lain bahkan lahan yang tersedia dihabiskan untuk bangunan sehingga tidak memiliki sisa untuk penghijauan.
Masalahnya?
Walaupun penghijauan tersebut dapat teratasi dengan taman atap, kita perl mengingat bahwa tanaman bukan hanya sebagai media penyedia oksigen tetapi juga mejadi penyeimbang tanah, penyerap air, bahkan penguat struktur tanah. Sehingga jika tanaman tersebut semakin kecil jumlahnya maka wajar saja jika saat hujan, air yang ada dipermukaan tidak tertampung. Akibatnya banjir melanda. Mungkin pada pihak yang menghuni perumahan tidak merasakan akibatnya, tapi lihat yang disekitarnya.
Jadi apakah taman atap sebuah solusi atau alibi?
Dengan adanya dalih penghijauan pada atap bangunan tentu pengembang menjadi semakin bebas menggunakan lahan. Bahkan bisa memperbanyak keuntungan dengan efektifitas lahan untuk pembangunan.
Hanya sekedar pemikiran penulis yang prihatin akan lebatnya hutan gedung. Sempitnya ruang gerak yang diakibatkan sempitnya lahan.
ujlifaisy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar